Categories
Budidaya

3 Macam Sistem Beternak Ayam Kampung

Haloo! Kali ini sinauternak membagikan artikel tentang model sistem beternak ayam kampung yang biasa dilakukan dan contohnya.

Ayam kampung merupakan istilah yang digunakan masyarakat Indonesia untuk menyebut jenis ayam yang biasa dipelihara secara tradisional. Ayam kampung merupakan golongan ayam bukan ras atau sering disebut dengan ayam buras. Nama ilmiah untuk ayam kampung adalah Gallus domesticus. Ayam ini berasal dari ayam hutan yang telah dijinakkan atau domestikasi.

Sistem pemeliharaan pada ayam kampung belum semaju pada ayam ras, seperti ayam broiler atau ayam layer. Pada awal perkembangannya, ayam ini diternakkan secara tradisional. Ayam hanya dibiarkan atau diumbar ketika siang dan dikandangkan ketika menjelang malam.

Tujuan ternak ayam kampung di masyarakat yaitu untuk diambil dagingnya, karena produksi telurnya relatif rendah.Seriring meningkatnya permintaan terhadap ayam kampung, baik daging maupun telurnya, ternak ayam kampung kini banyak diusahakan secara semi intensif dan intensif. Ternak ayam kampung pun tidak hanya diambil dagingnya, melainkan banyak yang berorientasi pada telur.

Nah mari kita simak bersama sistem-sitem beternak ayam kampung.

Sistem umbaran

Ayam dibiarkan berkeliaran bebas.

Untuk ternak ayam kampung sistem umbaran, tidak ada ketentuan bentuk kandang. Oleh karena itu sering juga disebut kandang asalan. Hal terpenting kandang tersebut bisa melindungi ayam dari cuaca ekstrim dan niat jahat manusia. Pada sistem ini, ayam dibiarkan lepas liar. Kebiasaan yang terjadi, ayam  ayam akan dilepaskan pada pagi hari dan akan dimasukkan ke kandang ketika hari menjelang sore.

Sistem beternak ayam kampung dengan umbaran ini cocok dilakukan di desa-desa yang rumahnya masih memiliki pekarangan luas. Dengan sistem umbaran, peternak lebih hemat dalam memberikan pakan dan perawatan harian. Hal ini dikarenakan ayam akan mempunyai kebiasaan mencari tambahan pakan sendiri.

Namun kelemahannya, kecenderungan produktivitas ternak ayam kampung dengan sistem ini akan rendah. Selain itu, perkawinan pada ternak ayam kampung sistem umbaran terjadi secara alami seperti di alam bebas. Biasanya betina yang bertelur akan mengerami telurnya sendiri hingga menetas dan memelihara anak-anak mereka. Peternak hanya perlu menyediakan tempat mengeram yang nyaman bagi induk betina.

Sistem semi intensif

ternak ayam kampung semi intensif
walaupun diumbar, tetap dibatasi pagar

Untuk sistem semi intensif bisa digunakan kandang tipe pekarangan. Kandang tipe ini berupa hamparan lahan yang sekelilingnya dipagari agar ayam tidak bisa keluar dari lingkungan kandang. Dalam areal kandang disediakan kandang terutup tempat ayam beristirahat atau berteduh dari hujan.

Tipe kandang pekarangan sebaiknya dibiarkan beralaskan tanah dan ditumbuhi hijauan seperti rerumputan. Sesekali tanah bisa dicangkuli agar tidak terlalu padat sehingga cacing tanah bisa tumbuh untuk pakan alami ayam. Dengan pemeliharaan semi intensif produktifitas ternak lebih bisa ditingkatkan.

Pada pemeliharaan sistem semi intensif, peternak mulai berorientasi pada keuntungan walaupun masih sebagai sampingan. Perbedaan utama yang terlihat dari kedua sistem ini  adalah kandang yang digunakan.

Jika dilihat dari hasilnya memang lebih lebih efisien jika memelihara secara semi intensif. Dengan pemeliharaan semi intensif produktifitas ternak lebih bisa ditingkatkan.

Sistem intensif

ternak ayam kampung intensif
ayam kampung dibatasi geraknya dengan dipelihara dalam kandang.

Saat ini, perkembangan peternakan ayam ras  di Indonesia terjadi sangat pesat dan produknya sudah menguasai pasar domestik. Akan tetapi, ayam kampung dan produknya tetap eksis bahkan ikut  berkembang untuk memenuhi permintaan pasar yang tetap cukup kuat.

Salah satu perkembangan yang terjadi adalah perkembangan sistem beternak ayam kampung menjadi sistem intensif serupa dengan pemeliharaan ayam ras.

Sistem tersebut bertujuan untuk lebih memaksimalkan produksi ternak baik kualitas daging maupun telur yang dihasilkan. Hal tersebut berbeda dengan pemeliharaan semi intensif dimana peternak belum maksimal dalam memelihara ayam.

Perbedaan yang terlihat dari kandang yang digunakan, pakan dan minum serta pembesaran hingga mencapai usia panen. Jika dilihat dari hasilnya memang lebih lebih efisien jika memelihara secara intensif.

Beternak intensif membutuhkan biaya yang lebih besar dibandingkan ternak semi intensif, namun menghasilkan kualitas yang lebih besar. Sedangkan kandang semiintensif memang biayanya lebih murah namun produktivitas telur maupun daging masih lebih rendah. Hal ini disebabkan, kandang masih belum memenuhi syarat sanitasi dan ventilasi yang baik dan pemeliharaan masih belum dikelola dengan baik.

Manakah yang lebih sesuai untuk anda?

Menurut berbagai hasil penelitian, Ayam kampung  dengan pemeliharaan yang intensif, dapat memberi hasil telur sekitar 105-151 butir/tahun. Dibandingkan dengan pemeliharaan secara semi intensif, hanya 30-60 butir.

Bobot telur per butir pemeliharaan intensif mencapai 45,27 gram/butir dibanding dengan cara semi intensif bobot hanya 37,5 gram/butir, dan bobot ayam pada umur 12 minggu bisa mencapai 708,0 gram dibanding dengan bobot pemeliharaan semi intensif hanya 425,19 gram.

Nah, menarik bukan. Semoga bisa menjadi gambaran buat anda yang ingin memulai berbisnis beternak ayam kampung. Selamat mencoba.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *