Jerami Fermentasi Untuk Pakan Ternak
Jerami Fermentasi Untuk Pakan Ternak

Jerami Fermentasi Untuk Pakan Ternak

Halo Gaes, Sinauternak kali ini akan membagikan laporan praktikum yang berjudul Jerami Fermentasi Untuk Pakan Ternak. semoga makalah ini bisa bermanfaat untuk para pegiat peternakan baik akademisi maupun praktisi. selamat membaca.

TINJAUAN PUSTAKA JERAMI FERMENTASI

 Probiotik

Probiotik merupakan koloni mikrobia yang berasal dari isolasi mikroba rumen dan koloni tanah hutan. Secara umum probiotik tersebut kaya akan mikroba selulotik, lignolitik, proteolitik dan lipolitik serta bakteri fiksasi nitrogen non simbiotik. Mikroba lignolitik akan membantu pemecahan ikatan lignoselulosa, sehingga selulosa dan lignin akan terlepas dari ikatan tersebut, karena mikroba lignolitik dapat menghasilkan enzim lignase yang terdiri dari phenol oksidase dan peroksidase yang akan merombak lignin (Suharto, 1990)

Sebagian besar degradasi selulosa yang terjadi di alam dilakukan oleh mikroorganisme. Mikroorganisme tersebut meliputi jamur dan bakteri, aerobik dan anaerobik, mesofilik dan thermofilik (Coughlan dan Ljungdahl, 1988).

Jasad anaerob adalah jasad yang pertumbuhannya tidak memerlukan oksigen atau dalam pertumbuhannya tidak ada oksigen. Dalam suasana anaerob pemecahan selulosa dapat menghasilkan ethanol, asam organik seperti asam asetat, format, laktat dan butirat dalam jumlah besar (Alexander, 1977).

Proses fermentasi 

Fermentasi adalah proses untuk menghasilkan berbagai produk dengan perantara atau dengan melibatkan mikrobia (Mcwhirter, 1987).

Menurut Rachman (1985) fermentasi merupakan aktivitas mikroorganisme untuk memperoleh energi yang diperlukan untuk metabolisme dan pertumbuhannya melalui pemecahan atau katabolisme terhadap senyawa- senyawa organik secara anaerobik.

Fermentasi timbul sebagai hasil metabolisme anaerobik karena adanya aktivitas mikroorganisme penyebab fermentasi pada substrat organik yang sesuai (Winarno et al., 1981 disitasi Slamet, 1995).

Tujuan perlakuan fermentasi adalah meningkatkan manfaat pakan berserat (Van Soest, 1994).

Kualitas fermentasi dapat diperbaiki dengan penambahan mikroorganisme, enzim, antibiotik, sumber nitrogen dan juga sumber energi (Peppler, 1983). Selanjutnya dinyatakan bahwa penambahan berbagai macam material seperti tersebut mempunyai beberapa tujuan antara lain;

1) mempercepat produksi asam laktat;

2) meningkatkan nilai kecernaan;

3) meningkatkan nilai nutrisi;

4) meningkatkan palatabilitasnya.

Faktor yang mempengaruhi fermentasi

Proses fermentasi pakan dipengaruhi oleh beberapa faktor yang saling tergantung satu sama lainnya, faktor-faktor tersebut meliputi;

1) karakteristik dari bahan yang akan digunakan meliputi kadar air, kadar karbohidrat terlarut, ukuran bahan;

2) macam dan kadar bahan tambahan;

3) metode pengisian bahan dan kadar oksigen (Peppler, 1983).

Adanya penambahan isolat mikrobia, bahan karbohidra mudah larut, bahan suplemen aditif pada jerami padi yang difermentasi dapat meningkatkan kualitas dan kecernaanya (Yusiati et al., 1995).

Manfaat Fermentasi Jerami Padi

Salah satu tujuan utama proses fermentasi jerami padi adalah memberi kesempatan kepada mikroba yang memproduksi asam laktat untuk berkembang dan dapat menurunkan pH, dengan rendahnnya pH dapat mencegah berkembangnya bakteri yang dapat merusak bahan pakan (pembusukan) (Ely et al., 1982).

Menurut Haryanto et al. (1997), pakan yang berserat seperti hijauan dan limbah pertanian (jerami) merupakan bahan pakan ternak ruminansia yang potensial. Kandungan lignoselulosa yang tinggi biasanya diikuti kecernaannya yang rendah merupakan kendala pada pemanfaatannya. Peranan probiotk menentukan tingkat degradasi partikel lignoselulosa-hemiselulosa, disamping dapat menjadi sumber protein bagi ternak ruminansia. Ketersediaan unsur yang diperlukan untuk pertumbuhan mikroba rumen, menentukan efisiensi sintesa protein mikroba rumen pada domba.


HASIL DAN PEMBAHASAN

Jerami Fermentasi Untuk Pakan Ternak 2
Jerami Fermentasi Untuk Pakan Ternak

Hasil

            Tabel 3.1, Karakter jerami fermentasi

Indikator             Waktu                   kontrol
14 hari21 hari14 hari21 hari
pH8889
BauAgak menyengat meyengatAgak menyengatAgak menyengat
TeksturkasarKasarkasarKasar
WarnaCoklat mudaCoklat mudaCoklat mudaCoklat muda

Pembahasan

Praktikum jerami fermentasi pada praktikum menggunakan jerami padi sebanyak 10 kg, bakteri EM4 secukupnya dan molases yang diencerkan secukupnya. Semua bahan dimasukkan ke dalam kantong plastik dan dilakukan secara bertahap sehingga merata.

pH.

Jerami fermentasi yang dihasilkan dengan waktu 14 hari dan 21 hari memiliki pH yang sama yaitu 8. Sedangkan pada kontrol dengan waktu 14 hari memiliki pH 8 dan 21 hari memiliki pH 9. Hal ini berlainan dengan pernyataan Reksohadiprodjo, 1988) dimana asam laktat mampu menurunkan pH menjadi 4,0 sampai 3,8. Tidak turunnya pH dikarenakan kurangnya produksi asam laktat oleh bakteri pembentuk asam laktat (BAL). BAL pada praktikum tidak dapat tumbuh secara optimal karena kurangnya kadar air yang dibutuhkan oleh bakteri. Menurut Carrizales dan juffe (1986), cit Basuki dan Wiryasasmita (1988) kadar air yang dibutuhkan untuk pertumbuhan mikrobia adalah berkisar antara 12 dan 80 % tergantung pada jenis dan ukuran partikel substrat.

Bau.

Bau yang dihasilkan pada jerami fermentasi pembukaan 14 hari agak menyengat dan menyengat pada pembukaan 21 hari begitu juga dengan kontrol. Bau agak menyengat ini dikarenakan adanya asam laktat yang sedikit terbentuk dan bau menyengat pada pembukaan 21 hari tidak disebabkan oleh asam laktat tetapi lebih disebabkan oleh pembusukan.

Tekstur.

Tekstur pada jerami fermentasi baik pada umur 14 hari atau 21 hari tetap seperti semula yaitu kasar. Hal ini dikarenakan kurangnya perombakan polimer menjadi monomer oleh bakteri asam laktat.

Warna.

Warna pada jerami fermentasi baik pada umur 14 hari atau 21 hari tetap seperti semula yaitu coklat muda. Hal ini dikarenakan tidak adanya aktivitas bakteri yang signifikan sehingga zat kimia yang dapat merubah warna tidak terbentuk.


KESIMPULAN

Jerami fermentasi yang dilakukan pada praktikum tidak menunjukkan hasil yang optimal terutama pada pH yang tidak dapat turun. Hal ini dikarenakan kurangnya penambahan air pada jerami sehingga bakteri EM4 yang diinokulasikan tidak dapat tumbuh secara optimal.


DAFTAR PUSTAKA

  •  Alexander, M. 1977. Introductory to soil Microbiology. John Willey and Sons. Singapore.
  • Coughlan, M. P. and L. G. Ljungdahl. 1988. Comparative Biochemistry of Fungal and Bacteria Cellulolytic System. Biochemistry and Genetic of Cellulolytic Degradation. Academic Press Limit. New York.
  • Suharto. 1995. Pemanfaatan Probiotik dalam Pakan untuk Meningkatkan Efisiensi Produksi Ternak di Pedesaan. Prosiding Komunikasi dan Penyaluran Hasil Penelitian. Hal: 34-36.
  • Haryanto, B., I. W. Mathius, D. Lubis dan M. Martawidjaya. 1997. Manfaat probiotik dalam peningkatan efisiensi fermentasi padi di dalam rumen. Dalam: Proc. Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner. Jilid II.
  •  Basuki, T. dan Wiryasasmita. 1988. Improvement of the Nutritive value of straw by biologycal treatment. Dalam: Limbah Pertanian Sebagai Pakan dan Manfaat lainnya. Editor: M. Soejono, A. Musofie, R. Utomo, N. K. Wardhani dan J. B., Shiere. Proc. Bioconvertion Project. 2nd ed. Workshop on Crop Residues for Feed and Other Purposes. Grati Pp. 86-105.
  • Ely, L. O., N. J. Moon and E. M. Sudweeks. 1982. Chemical Evaluation of Lactobacillus addition to Alfafa, corn, sorghum, and wheat forages at ensiling. J. Diary Sci. 65 :1041-1046.
  • McWhirter, N. 1987. The Macmillan Encyclopedia. 3th. Ed. Longman. London.
  • Peppler, H. J. 1983. Fermented feeds and feed suplement. In : V. Chemire (Ed.). Vol. 5. Weinhelm. Deerfieltd Beach. Florida. Basel.
  • Rachman, A. 1985. Pengantar Teknologi Fermentasi, PAU Pangan dan Gizi. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
  • Reksohadiprodjo, S. 1988. Pakan Ternak Gembala. BPFE. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
  • Slamet, W. 1995. Pengaruh lama pemeraman dan aras isi rumen terhadap kualitas jerami padi dan pucuk tebu. Tesis. Fakultas peternakan. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
  • Van Soest, P. J. 1994. Nutritional Ecology of the Ruminant. 2nd ed. Comstock Publishing Associates. Ithaca.
  • Yusiati, L. M., Z. Bachrudin, Kustono dan Rachmadi. 1995. Chemical Evaluation of Lignocellulolytic Microbes, Yeast and Lactobacilli addition to rice straw at silage preservation. Bulletin of Anim. Sci. Special Edition. Fac. of Anim. Sci. UGM. Yogyakarta. PP: 267-270.

Tulisan Terkait: